IJN – Banda Aceh | Suasana malam ketiga Ramadhan di Masjid Jamik Darussalam, kawasan Kampus Universitas Syiah Kuala, dipenuhi jamaah yang khusyuk mengikuti rangkaian salat Isya, Tarawih, dan Witir.
Dalam tausiyahnya, Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc. yang bertindak sebagai penceramah pada malam ketiga Ramadhan itu, mengajak jamaah menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat bekal menuju derajat takwa.
Mengawali ceramah, ia mengingatkan dua doa penting yang patut senantiasa dipanjatkan setiap Ramadhan: memohon agar seluruh amal ibadah diterima Allah SWT, serta memohon agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan pada tahun mendatang.
“Ramadhan adalah bulan yang kita rindukan. Doa kita untuk bertemu dengannya telah dikabulkan. Tinggal bagaimana kita mengisinya,” ujar Ketua BKM Al Wustha, Jeulingke itu di hadapan ratusan jamaah.
Ramadhan dan Kesadaran Akan Kematian
Penceramah juga mengisahkan seorang sahabatnya yang wafat menjelang Ramadhan.
Dalam kondisi sehat di awal Sya’ban, sahabat tersebut tiba-tiba jatuh sakit dan dipanggil Allah SWT sebelum sempat menikmati Ramadhan. Kisah itu menjadi pengingat bahwa umur manusia singkat dan panggilan Allah bisa datang kapan saja.
“Kalau hari ini kita masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan, itu adalah karunia besar. Bekal apa yang sudah kita siapkan jika suatu saat dipanggil Allah?” tanyanya menggugah kesadaran jamaah.
Lima Amalan Utama di Bulan Ramadan
Dalam ceramahnya, ia merangkum lima amalan penting yang perlu dioptimalkan selama Ramadhan agar meraih derajat la‘allakum tattaqun (menjadi orang-orang bertakwa).
Pertama, menjaga shalat lima waktu berjamaah. Amalan ini menjadi fondasi utama.
Ia menekankan pentingnya menjaga shalat wajib secara berjamaah di masjid, terutama bagi kaum laki-laki. Ramadhan harus menjadi titik balik memperbaiki kedisiplinan dalam shalat.
“Kalau di luar Ramadhan kita masih lalai, maka Ramadhan adalah momentum untuk memperbaikinya. Persiapkan diri sebelum azan berkumandang dan utamakan berjamaah,” pesannya.
Selain shalat wajib, jamaah juga diajak memperbanyak shalat sunnah seperti rawatib, dhuha, tahajud, dan tentu saja tarawih. Ia menyinggung sejarah shalat tarawih yang ditegakkan secara berjamaah pada masa Khalifah Umar bin Khattab sebagai bentuk persatuan umat dalam ibadah.
Kedua, memperbanyak membaca Al-Qur’an. Ramadhan disebut sebagai syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an). Penceramah mendorong jamaah menargetkan khatam minimal satu kali selama Ramadhan.
Al-Qur’an standar terdiri dari sekitar 604 halaman. Jika dibagi 30 hari, maka sekitar 20 halaman per hari. Ia menekankan pentingnya perencanaan agar target tersebut tercapai.
“Kalau kita tidak merencanakan, maka kita merencanakan kegagalan,” tegasnya.
Ia juga mengajak jamaah mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat dan menggantinya dengan tilawah, memanfaatkan suasana Ramadhan yang sarat dengan lantunan ayat suci.
Ketiga, memperbanyak istighfar. Ia mengisahkan cerita tentang Ahmad bin Hanbal, murid dari Imam Syafi’i, yang pernah bertemu seorang penjual roti yang senantiasa beristighfar dalam setiap aktivitasnya.
Penjual roti tersebut mengaku hampir semua doanya dikabulkan Allah berkat kebiasaan istighfar selama puluhan tahun. Satu-satunya doa yang belum terkabul adalah bertemu Imam Ahmad, dan Allah mempertemukan mereka tanpa diduga.
“Ini menunjukkan betapa dahsyatnya istighfar. Ia memudahkan urusan dan membuka pintu rezeki,” jelasnya.
Keempat, memperbanyak doa. Ramadhan adalah bulan yang doa-doanya mustajab. Penceramah mengingatkan bahwa Allah SWT senang ketika hamba-Nya memohon dan berharap hanya kepada-Nya.
Ia mengajak jamaah untuk tidak ragu meminta apa pun yang baik: kemudahan rezeki, kesehatan, keturunan, penyelesaian utang, dan segala kebutuhan hidup.
“Mintalah kepada Allah. Itu tanda kita hamba dan Allah adalah Rabb kita,” ujarnya.
Kelima, memperbanyak sedekah. Amalan terakhir yang ditekankan adalah memperbanyak sedekah, terutama untuk mendukung kegiatan masjid dan membantu sesama, termasuk mahasiswa dan para penghafal Al-Qur’an.
“Sedekah tidak harus menunggu kaya. Punya uang beri uang, punya makanan beri makanan, punya beras beri beras. Inilah bekal kita untuk akhirat,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kasih sayang kepada sesama akan mendatangkan kasih sayang Allah SWT, sebagaimana ajaran Rasulullah SAW tentang pentingnya menyayangi sesama manusia.
Penutup: Jangan Lupa kepada Allah
Menutup ceramah, Prof. Rahmat Fadhil mengingatkan agar umat tidak menjadi golongan yang lupa kepada Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri sendiri.
Ia menegaskan bahwa tidaklah sama penghuni surga dengan penghuni neraka; surga diperuntukkan bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan, sembari mengutip Surah Al Hasyr ayat 18 sampai 20.
“Semoga Allah menjadikan Ramadhan ini penuh berkah, mempertemukan kita sampai akhirnya, dan menerima seluruh amal ibadah kita,” tutupnya.
Ceramah malam itu menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan emas untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan menyiapkan bekal terbaik menuju kehidupan abadi.


















